Ringkasan Diskusi Buku #1#1

LINGKARAN | klab baca – 7 Maret 2019, Yogyakarta

Berikut ini adalah ringkasan pembahasan bab Pendahuluan buku bertajuk Reading Dancing: Bodies and Subjects in Contemporary American Dance (1986), karya Susan L. Foster.

Dalam bagian Pendahuluan (Preface) bukunya yang bertajuk Reading Dancing: Bodies and Subject in Contemporary American Dance, Susan Leigh Foster memulai dengan menelusuri kenangan menonton pertunjukan karya Merce Cunningham di tahun 1967 (ketika ia masih remaja) sebagai bagian American Dance Festival (ADF) dan dua tahun berikutnya di Paris. Ia mengenang betapa menakjubkan pengalaman tersebut – sekaligus membingungkan – karena komposisi koreografik Cunningham yang nyeleneh, menyalahi konvensi (kebiasaan) koreografer-koreografer Amerika sebelumnya (saya menafsirkannya sebagai koreografer Amerika yang aktif berkarya di paruh awal abad ke-20 seperti Isadora Duncan dan Ruth St Denis).

Foster mencatat betapa karya Cunningham yang ditontonnya pertama kali di tahun 1967, bertajuk How to Run, Kick, Pass and Fall (1965) menyajikan pendekatan koreografik yang tidak lazim; bagaimana gerakan diatur acak berdasarkan teori probabilitas (chance theory), dan hubungan gerakan dan musik yang tidak biasa (tidak selaras?) serta adegan kolaborator Cunningham, komposer John Cage, yang tiba-tiba nyelonong di tengah-tengah koreografi, duduk santai menyeruput segelas anggur merah. Apa yang sebenarnya terjadi dalam koreografi ini? Maksud (makna) nya apa? Di Paris tahun 1969, saking terharunya menonton karya Cunningham bertajuk Field Dances (1963) di Paris, yang menurut Foster menakjubkan dan memberi gagasan baru tentang tubuh manusia, ia pun menghampiri Cunningham di belakang panggung. Alih-alih mengomentari (atau mengamini) analisa Foster yang agak filosofis, Cunningham cuma dengan datar berujar jika koreografinya barusan adalah “.. karya tari ini dibagi ke dalam bagian-bagian yang direpresentasi di dalam urutan yang berbeda untuk setiap pertunjukan, yang (urutannya) ditentukan berdasarkan prosedur-prosedur kebetulan atau acak…..”.

Sejak mendirikan kelompok tarinya sendiri di tahun 1953, Cunningham memang memulai eksperimentasinya dalam rangka mempertanyakan kembali apa itu ‘tari’ (atau koreografi) dengan cara menciptakan patahan-patahan (ruptures) dari generasi koreografer pendahulunya. Cunningham mempertanyakan – sekaligus menegangkan (to sever) – hubungan yang biasanya terjalin antara musik, perasaan manusia dan gerakan. Menurutnya, ketiga elemen ini bisa – dan seharusnya – dilihat sebagai tiga peristiwa yang terpisah, yang korelasinya satu sama lain tidak selalu selaras. Dengan memutus asosiasi gerakan tari dari sumber-sumber musikal dan emosionalnya, Cunningham memberi tari sebuah kemerdekaan baru sebagai substansi material yang kasat mata, sehingga tari dapat dikonstruksi sebagai peristiwa yang sepenuhnya otonom atau berdiri sendiri. Objektifikasi dari gerakan tari melawan anggapan-anggapan yang ada tentang komposisi tari seperti ini bukan saja mengakui bahwa tidak ada hubungan ‘alamiah’ (natural) antara gerakan dan perasaan tetapi juga mengajukan sebuah gagasan bahwa tari bisa dilihat semata-mata sebagai tubuh-tubuh yang bergerak – tidak lebih dari itu.

Menurut Foster, pencarian akan cara bergerak-, tubuh- serta proses koreografik yang organik dan natural, telah mendominasi pertunjukan tari Amerika di awal abad ke-20 dan itu berlanjut hingga ia menulis buku Reading Dancing …. ini (1980an). Menurut mazhab ini:

  • tari adalah medium ekspresi yang paling pantas untuk memproyeksikan dimensi-dimensi manusia yang purba, emosional dan libidinal dari pengalaman manusia.
  • tari dilihat sebagai outlet bagi perasaan-perasaan yang intuitif atau dibawah sadar, yang tidak dapat diakses secara verbal (intelektual).
  • tari sering tumbuh sebagai kebisuan yang disakralkan, dengan menolak apa yang verbal, logis dan diskursif (berwacana) demi pencapaian dalam dunia fisikan dan indrawi.
  • tari tertekan oleh status inferior dalam masyarakan yang menghargai hal-hal yang verbal dan matematis sebagai bentuk yang lebih tinggi ketimbang bentuk-bentuk berwacana lainnya.

Hal ini berujung melahirkan peran tari sebgai sesuatu yang spontan, anggun, erotik dan di atas segalanya, menonjolkan penggunaan tubuh yang paling menggairahkan, di dalam masyarakat.

Masalahnya, selama tari mengejar yang serba ‘natural’, sedikit saja yang bisa dikatakan tentang seni meng-koreografi. Mengapa? Karena proses kreatif yang ‘natural’ ini adalah pencarian inspirasi dan ekpresi yang sangat pribadi, yang tidak dapat dipelajari. Salah satu koreografer Amerika awal abad 20 yang mengusung prinsip ini adalah Doris Humphrey dengan bukunya The Art of Making Dance (yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Dr. Sal Murgiyanto).

Di abad ke-20, teori-teori tentang komposisi tari telah dirumuskan diantaranya oleh Suzanne Langer (filsuf), John Martin (kritikus tari) dan Curt Sachs (etnologis). Ketiga teoretikus ini, menurut Foster, menempatkan asal-muasal tari pada usaha-usaha manusia dalam berkomunikasi melalui gestur-gestur. Ketiganya menentang kerinduan purba untuk mengekspresikan perasaan ke dalam kepalsuan (articifiality) gerakan yang beradab, dan melihat tari sebagai sebuah medium yang dapat mengembalikan kita ke sebuah energi vital dan rasa keutuhan yang tak teralienasi.

Dalam pengertian mereka, tubuh adalah sebuah instrumen fisik bagi dunia dalam seperti subjektivitas, dan tari berfungsi sebagai sebuah simbol mengkilat dari kebenaran-kebenaran manusia yang tak terkatakan; sehingga meninggalkan sedikit saja ruang bagi kita untuk berkata tentang bagaimana tari disusun.

Jadi: bagaimana caranya kita dapat melihat bagaimana sebuah tarian itu dicipta; bagaimana sebuah tarian itu memiliki makna?

Karena sifat tari itu sendiri sebagai medium yang tak dapat dipegang wujudnya (fleeting), juga berkaitan dengan permasalahan-permasalahan estetika mereka, para koreografer abad 20 umumnya memilih untuk tidak berbicara tentang tarian mereka. Termasuk Cunningham. Padahal, Foster mencatat bagaimana karya Cunningham itu menggunakan kosa gerak yang beragam (teknik balet maupun teknik pedestrian atau gerak sehari-hari), menerapkan prosedur kebetulan sebagai panduan menyusun urutan gerakan, yang seluruhnya menawarkan aktivitas bergerak sebagai sebuah makna.

Untuk bisa memahami makna dari karya Cunningham, misalnya, Foster mengembangkan pendekatan yang ia sebut sebagai ‘reading dancing’ (membaca tarian), yaitu upaya menafsir tari secara aktif dan interaktif sebagai sebuah sistem makna.

  • Ia mengusulkan serangkaian konvensi koreografik yang mencipta dan mengungkap apa maksud karya tari tertentu.
  • Ia memeriksa konvensi koreografik tersebut pertama-tama sebagai praktik artistik para koreografer, yaitu dengan mensurvey pendekatan-pendekatan terhadap komposis tari seperti yang diwakili dalam karya tari Deborah Hay, George Balanchine, Martha Graham dan Merce Cunningham.
  • membandingkan pandangan-pandangan para koreografer ini tentang masing-masing proses kreatif, teknik tari, aksi ekspresif, asumsi-asumsi implisit tentang peran tubuh dan subyek ekspresif di dalam tari.
  • mempertanyakan apa yang sudah selama ini kita yakini bagaimana tari itu dicipta.

Keempat koreografer yang menjadi obyek pengamatan Foster di sini mendeskripsikan pendekatan-pendekatan mereka tentang komposisi dalam istilah-istilah radikal yang kontras; mereka tidak sepakat tentang standar-standar kompetensi teknik (menari), mereka memproyeksikan gagasan-gagasan yang sama sekali berbeda satu sama lain tentang apa itu tubuh dan apa yang tubuh lakukan. Meski demikian, bagaimana setiap koreografer menumbuhkan tubuh tetap selaras dengan estitika mereka secara keseluruhan.

Bab 1 buku ini (yang akan dibahas dua minggu berikut) memutus keterlibatan tari dari asosiasi-asosiasi kita yang familiar, yaitu melalui penyajian gagasan-gagasan tentang proses kreatif yang berbeda-beda.

Bab 2 secara khusus melihat ketrampilan dalam mengkomposisi tari dari masing-masing koreografer. Begitu tubuh, subyek serta aksi ekspresif di ‘de-naturalisasi’, tari pun jadi bisa diteliti secara eksplisit sebagai sebuah sistem kode dan konvensi yang mendukung maknanya.

Bab ini menimbang 5 konvensi-konvensi tersebut, yaitu;

  • kerangka tari (dance’s frame) – bagaimana tari memisahkan dirinya dari dunia (the rest of the world).
  • moda-moda representasi – bagaimana meniru (resemblance, imitation), mereplika, atau merefleksi tari yang merujuk ke dunia.
  • gayanya – bagaimana karya tersebut mencipta sebuah gaya pribadi.
  • kosa-gerak – gerakan-gerakan individual yang disusun menjadi sebuah komposisi.
  • sintaks (syntax) – prinsip-prinsip yang menuntun sang koreografer dalam memilih kombinasi gerakan-gerakan.

Tiga yang pertama mengizinkan tari untuk merujuk pada peristiwa-peristiwa di dunia, sementara dua terakhir memberikan tari koherensi dan struktur internal.

Jadi, makna tarian sejatinya, di satu sisi, adalah sebuah produk dari ketegangan yang diciptakan antara dua jenis konvensi: antara rujukan-rujukan tari terhadap dunia, dan terhadap organisasi nya sendiri (bagaimana ia disusun).

Bab 3 menggunakan puitik-puitik tari yang dimapankan di dalam bab 2 serta empat pendekatan kontemporer terhadap koreografi yang dikembangkan di dalam bab 1 untuk membangun sebuah sejarah tentang pertunjukan tari (concert dance). Untuk itu, Foster berencana akan mulai dari pertunjukan-pertunjukan spektakular di kraton-kraton Eropa di paruh akhir zaman Rennaissance dan mulai bergerak menuju masa neo-klasik di abad ke-18, masa ekspresionisme di awal abad ke-20 dan akhirnya sampai di masa revolusi Cunningham di tahun 1950an. Foster berargumentasi bahwa metode utama unutk mengkomposisi tari di setiap periode historis ini menyerupai satu dari keempat model kontemporer. Karenanya, karya-karya ke-empat koreografer yang diteliti menyediakan ranah yang familiar untuk menganalisa sejarah tari Barat.

Pada saat bersamaan, perbandingan masa lalu dan masa sekarang menggunakan rangkaian-rangkaian konvensi koreografik yang serupa, yang pada akhirnya menunjuk pada kekhususan historis dari konvensi-konvensi tersebut. Perbandingan ini mengizinkan kita untuk melihat sejauh mana makna setiap struktur koreografik ditemukan melekat pada setting sosio-historisnya.

Bab 1-3 menelisik tari sebagai sebuah produk dari proses kreatif masing-masing koreografer, dari konvensi-konvensi yang menyusunnya, dan dari situasi historisnya.

Bab 4 melengkapi analisa ini dengan menimbang pengalaman dari para penonton tari, dengan merefleksi ulang pengalaman-pengalaman penonton tari yang berbeda dengan cara mengusulkan model ke-5 dari proses koreografik, yaitu model yang benar-benar melibatkan penonton ke dalam proses penciptaan tari seperti ditemukan dalam karya kelompok Grand Union, Meredith Monk and the House, Twyla Tharpe DAnce Company).

Foster memilih ‘membaca’ dan ‘menulis’ sebagai metafora untuk menafsirkan karya tari, sebuah pendekatan yang diambil dari diskusi tentang istilah-istilah ini yang dipakai di dalam kritik sastra dan kritik kebudayaan, terutama melalui karya-karya para pemikir seperti Roland Barthes, Michel Faucoult dan Hayden White. Istilah ‘membaca’ dan ‘menulis’ adalah juga bentuk-bentuk inskripsi (ketubuhan).

Catatan kritis pembaca dan pembahas atas premis-premis yang diutarakan Foster:

  • Meski buku karya Foster ini sangat penting sebagai pembuka jalan berkembangnya disiplin kajian tari, tetapi pembahasannya masih terbatas pada para koreografer Amerika yang berkulit putih, sehingga mengenyampingkan nama-nama lain seperti Katharine Dunham, misalnya.
  • Foster mengesankan jika bukunya ini menawarkan kritik dialektis atas tafsir tari sebelumnya yang menempatkan ballet sebagai satu-satunya bentuk pertunjukan tari Barat yang melihat tari modern sebagai sebuah momentum eksperimentasi yang memberontak, namun ia gagal memproduksi sebuah lexicon. Ironisnya, kritik Foster dilandasi dari pembacaannya yang terbatas juga, dan alih-alih menghindari penulisan yang kanonikal, ia justru meneguhkan kanon bahwa terobosan tari kontemporer Amerika dipicu oleh eksperimentasi yang berasal dari motivasi artistisik tertentu yang diwakili oleh Cunningham, sosok yang seringkali didapuk sebagai yang mengilhami generasi Postmodern Dance di Amerika seperti Yvonne Rainer, Trisha Brown, Lucinda Childs dan sebagainya.

Pembaca dan Pembahas: Helly Minarti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s